Komputer Lab (Adaptasi cerita benar)
June 14, 2018
BironTale Chapter 11: Sans-ational
June 22, 2018

Banyu (Hantu Air)

Views:   181

Ini adalah cerita seram pendek dari cerita seseorang yang ingin berkongsikan ceritanya kepada pembaca. Mesti banyak tertanya-tanya kan apa itu Banyu?

Banyu (Indonesia) adalah sejenis hantu air yang suka menakut-nakutkan orang dan menganggu mereka. Ia adalah hantu lagenda yang amat terkenal di Indonesia. Banyu ini berbentuk seperti manusia dan Siamang.

Rambutnya panjang dan tubuhnya berlendir kalau bentuknya manusia.

Kalau berbentuk Siamang pula wujudnya eperti muka beruk namun menakutkan. Dia suka menganggu manusia yang pergi ke sungai apalagi kawasan yang berlubuk. Terutama masuknya waktu maghrib.

Mengikut cerita teman aku ni, yang ingin dikenali sebagai Darma (bukan nama sebenar), berasal dari Palembang, Indonesia. Dulu tu di kawasan perkampungannya pernah terjadi satu kejadian di mana ada kehilangan anak SD (kalau di Malaysia bilang anak sekolah rendah) sewaktu bermandi-mandian di dalam sungai. Menurutnya, waktu itu dia masih kecil dan memang terkenal dengan anak yang nakal dan tidak patuh pada nasihat dan teguran orang tua. Dia bersama tiga lagi temannya selalu bermain dan bermandi-mandian di dalam sungai yang terletak di dekat rumah Pak Sordijo(jiran Darma). Mereka selalu di marahi dan ditegur oleh pak Sudirjo bahwa jangan mandi-mandian terlalu lama di dalam sungai tersebut, tidak baik untuk badan dan nanti akan di ambil hantu Banyu. Mereka mengikuti juga nasihat pak Sudirjo itu, namun keesokan harinya akan berlaku hal yang sama lagi.
Dan begitulah setiap hari.
Budak-budak ini walaupun selalu pergi di kawasan sungai tersebut yang jernih dan indah, namun tidak pernah pergi ke kawasan lubuk yang ada di tengah kawasan sungai tersebut kerna ianya bahaya dan sangat dalam.

Sehingga pada suatu hari ne, mereka membawa teman dari kampung seberang. Namanya Dilan dan Wibowo. Budak berdua ne memang nakal dan lebih parah kenakalannya dari Darma. Waktu itu, Pak Sordirjo tidak ada di rumah. Lagi ke bandar dengan isterinya untuk berniaga.

Mereka pun bermandi-mandalah di dalam sungai itu, berteriak-teriak dan ketawa girang. Sehingga mereka tidak sedar waktu berlalu begitu cepat dan azan maghrib pun sudah berkumandang.

“Udah mau gelap ni. Ayo kita pulang deh.” Kata Darma sambil dipersetujui oleh ketiga teman baiknya.

“Eh, kok awal banget sih? Bentar dong. Kami berdua lagi belum puas ne. Mau nangkep ikan-ikan. Tengok ni ikannya makin banyak aja keluarnya.” Kata Wibowo, budak lelaki yang bertubuh gempal sambil menangkap ikan-ikan tersebut menggunakan bajunya.

“ Jangan. Nanti kenapa-napa susah dong. Ayo lah esok aja nyambungnya nangkep ikan.” kalih Darma.

Namun mereka masih protes dan tidak mahu mendengarkan kata-kata Darma.

“Ayolah…” sambil menarik lengan Wibowo dan Dilan.
“Ish! Ganggu aja. Kalau mau pulang, pergi saja sono! Ini ikannya lagi lumayan banyak. Kamu tu gangguin aja!” Geram Dilan.

“Ya udah deh kalo gitu. Aku nggak akan bertanggunjawab jika berlaku hal-hal yang aneh pada kalian. Bandel!(nakal)” lalu Darma pun pergi dari sana bersama tiga temannya dengan perasaan geram.

“Apa benar mereka tidak kenapa-napa Dar? Aku risau lho.” kata salah seorang teman Darma.

“ Nanti mereka bisa di ambil hantu Bunyan. Inikan uda maghrib, kata papaku Bunyan tu suka aktif di waktu yang begini nih.” kata kawanya Darma yang seorang lagi.

“ Tapi … aku takut mau ke sana lagi! Nggak usah la. Siapa suruh mereka bandel! Nggak mau dengar ngomongan orang.” kalih kawan Darma yang bertubuh kecil.

“Teman-teman ngak boleh gitu. Ayo kita paksa aja mereka berdua pulang. Ini udah mau gelap. Nanti mereka di cari’in orang tua mereka lagi.” jawab Darma.

Mulanya mereka bertiga tidak setuju dengan katanya Darma, tapi akhirnya mereka akur juga.

Di kawasan sungai kelihatan Dilan dan Wibowo sedang seronok menangkap ikan sambil tergelak-gelak. Tiba-tiba, Wibowo melihat seekor ikan yang besar dan berwarna hijau kehitaman.

“Dilan! Lihat itu! Ikannya gede banget. Kalo aku dapat tuh, mama pasti senang banget.” riang Wibowo.

Dia mengejar-ngejar ikan tersebut sampailah ke kawasan lubuk diikuti Dilan. Dengan laju ikan tersebut berenang ke dalam lubuk.

“Yaaa… kabur deh.” serentak Dilan dan Wibowo.

“ Wibowo, ayo kita pulang aja. Uda malam ne. Mama papa aku pasti risau ni.” Ajak Dilan.

“Ayo.”

Dengan perasaan hampa mereka pun pergi meninggalkan lubuk tersebut. Namun, tidak semena-mena Wibowo tenggelam, Dilan pantas melihat kebelakangnya.

“Wibowo! Wibowo! Kamu di mana?!” Teriak Dilan panik.

Tiba-tiba Wibowo muncul di tengah lubuk sambil terkapai-kapai.

“Tolong aku Dilan! Dilan! Tolooong! Aku ngak bisa berenang!” rintih Wibowo yang tenggelam timbul di dalam lubuk tersebut. Melihat temannya yang lemas itu, Dilan tidak berfikir panjang. Dia pun terjun ke dalam lubuk untuk menyelamatkan Wibowo. Dia berusaha menarik Wibowo, namun gagal.
“ Wibowo! Kamu kok berat banget? Aku ngak dapat menarik kamu. Goyangkan kedua kaki kamu dong.” Arah Dilan.

“Aku… aku… nggak bisa. Ada yang menarik kaki aku Dilan.. Gulp…Aku nggak tahan lagi! Sakit!!” Jawab Wibowo sambil mengerang kesakitan.

Akhirnya Wibowo tenggelam dan hilang dari pandangan Dilan.

“Wibowo! Wibowo!!” teriak Dilan cemas dan takut. Air matanya mulai mengalir.

“Dilan! Keluar dari situ! Cepat!!” Arah Darma dari tebing sungai diikuti temannya dengan perasaan cemas.

Belum sempat Dilan berenang ke kawasan cetek, muncul lembaga yang berambut panjang menutupi wajah dan tangan berselaput serta tajam memeluk Dilan dan meneggelamkan Dilan bersamanya.

“Dilan!!!!!” Serentak mereka bertiga. Seakan tidak percaya dengan apa yang berlaku.

“Darma! Ayo pulang laporkan kepada orang kampung.” cadang kawannya yang juga ketakutan.

Mereka berpegangan tangan dan berlari sepantas yang mereka boleh meninggalkan tempat tersebut. Sesampainya di kawasan kampung, Darma dan teman-temannya menceritakan hal yang terjadi kepada keluarga mereka dan orang kampung. Berita itu tergempar di seluruh kawasan kampung dan semua penduduk yang ada di sana pergi ke sungai tersebut untuk mencari Dilan dan Wibowo.

Berjam-jam lamanya mereka mencari. Ada di antara mereka yang berani menyelam ke dasar lubuk tersebut. Namun Wibowo dan Dilan tidak juga ditemui. Akhirnya mereka memutuskan untuk balik dan cari lagi pada keesokan harinya. Darma mengambil beg, baju dan seluar sekolah Dilan dan Wibowo lalu dibawa pulang ke rumah.

Keesokan harinya, awal pagi lagi mereka datang semula ke sungai tersebut. Kali ini diikuti seorang dukun dan keluarganya Dilan dan Wibowo. Apabila mereka mendengar berita tentang kehilangan anak mereka, langsung mereka datang di situ dan tidak henti-henti menangis. Ada juga keluarga Dilan dan Wibowo menyalahkan Darma dan teman-temannya kerna membawa anak mereka mandi di sungai puaka tersebut.

Pak Dukun yang dikenali sebagai Bojig itu duduk di atas batu yang besar berada di tepi lubuk tersebut. Mulutnya terkumat-kamit membaca jampi serapah. Lama juga mereka menunggu dukun itu membukakan mulut. Akhirnya Bojig membukakan matanya.

“Jadi bagaimana pak dukun? Dimanakah mereka??!” (penduduk kampung)

“ Hmm… mereka telah diambil oleh hantu Banyu dan di bawa ke alam mereka. Roh Dilan dan Wibowo sudah ditakluki mereka. Tubuh mereka pulak ada di sana.” Kata Bojig sambil menundingkan jari di arah sebuah pokok yang akarnya besar-besar serta berjuntaian di tepi sungai. Dengan segera orang kampung dan keluarga mereka pergi ke arah pohon tersebut. Seperti apa yang dikatakan oleh Bojig. Mayat Dilan dan Wibowo ditemukan di bawah akar kayu tersebut. Keadaan tubuh mereka amat menggerikan. Mata mereka berwarna putih terbeliak tanpa sebarang darah, tubuh pucat, bibir biru kehitaman, dan perut mereka berdua buncit kerna terminum air sungai yang banyak. Tubuh Dilan dan Wibowo juga lebam-lebam dan ada tanda seperti di genggam dengan kuat di kaki mereka. Mayat mereka dibawa pulang dan Bojig memesan agar jangan ada sesiapa lagi pergi ke tempat tersebut. Kerna itu adalah sarang rumahnya hantu banyu.

Semenjak kejadian itu, tidak ada lagi yang berani pergi ke sungai tersebut. Terutama Darma dan teman-temannya. Mereka betul-betul menyesal. Kalau mereka tidak meninggalkan dua teman mereka itu tentu mereka berdua masih hidup sekarang ini. Namun, apakan daya nasi sudah menjadi bubur. Perkara yang sudah berlaku tidak akan mungkin terulang lagi.

Menurut Darma lagi, beberapa lama setelah itu orang kampung telah menimbus sungai tersebut dan kini sungai tersebut sudah tidak ada. Namun, kenangan pahit dan tragedi lalu bukan sukar untuk dihapuskan dalam ingatan.

Hello there~
My name Azuka ~
I used Miss Azuka as an author fr my stories~
i born on 27th April , proudly Taurus
Female and still studying in diploma program
I am a Chef/writer/singer and i love it very much;)
Hobby is writing in relax time and singing also playing music instrumental
Welcome to my Tuliswrite TM page 😉

Love2
Miss Azuka
Miss Azuka
Hello there~ My name Azuka ~ I used Miss Azuka as an author fr my stories~ i born on 27th April , proudly Taurus Female and still studying in diploma program I am a Chef/writer/singer and i love it very much;) Hobby is writing in relax time and singing also playing music instrumental Welcome to my Tuliswrite TM page ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *